Tuesday, July 31, 2012

Prasasti Pohsarang



Hm, Prasasti Pohsarang terletak di Desa Pohsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur dan terletak tak jauh dengan Gereja dan Gua Maria Pohsarang.

Menuju Ke Prasasti Pohsarang

>          Dari arah Kota Kediri, arahkan kendaraan ke Terminal Tamanan Kota Kediri. Dari sini lurus saja mengikuti petunjuk ke arah Gereja dan Gua Maria Pohsarang dan Air Terjun Irenggolo serta Air Terjun Dholo.

>          Sebelum sampai ke Gereja Maria Pohsarang, akan ada pertigaan dengan pohon beringin kecil dan patung kerbau di tengah jalan (arah ke Air Terjun Dholo). Belok kiri dan seberangilah jembatan. Tak begitu jauh akan terlihat Masjid Agung Pohsarang. Parkirkan kendaraan anda Masjid ini. Di seberang masjid akan terlihat adanya lapangan desa. Di sebelah kanan lapangan yang dekat dengan rumah penduduk akan terlihat sebuah jalan tanah kecil. Ikutlah jalan tersebut sejauh satu kilometer hingga bertemu bangunan beratap limas. Prasasti Pohsarang berada di dalam cungkup limas tersebut.

>         Tak ada kendaraan umum yang menuju ke tempat ini. Jika ingin kesini bisa naik ojek dari Terminal Tamanan.

Prasasti Luçem

            Prasasti Pohsarang memiliki nama asli Prasasti Luçem atau yang biasa dibaca Lusem. Prasasti Pohsarang atau Luçem ini dipahatkan di atas batu alam yang besar dan terletak tak jauh dari Sungai Kedak. Prasasti Pohsarang dipahatkan dengan huruf Kwadrat dan berbahasa Jawa Kuno. Huruf Kwadrat sendiri sering dan lazim digunakan pada era Kerajaan Kadiri, sedangkan salah satu huruf Kwadrat tertua bisa diketemukan terpahatkan pada salah satu dinding Candi atau Petirtaaan Jalatunda.

Berhuruf Timbul

            Keunikan lainnya dari Prasasti Pohsarang adalah hurufnya yang dipahatkan “keluar” sehingga hurufnya “timbul” di atas permukaan batu. Tulisan timbul seperti ini juga sangat jarang diketemukan pada prasasti lainnya dan sejauh sepengetahuanku, hanya Prasasti Pohsarang saja yang merupakan prasasti dengan huruf timbul yang dipahatkan pada batu alam yang besar.

Prasasti Berhuruf Timbul

       Prasasti Pohsarang terdiri dari empat buah baris dengan bagian terpanjang 190 cm dan ukuran masing - masingnya 17 x 50 cm. Berikut bunyi dan arti Prasasti Pohsarang yang pernah dibaca oleh Prof. MM. Sukarto Kartoatmojo :

934 tewek ning hnu bineneraken da
Mel samgat lucem mpu Ghek
Sang apanji tepet 1 panenem
Boddhi waringin

Artinya
Tahun 934 Saka (bertepatan 1012 M) batas patok jalan di
Luruskan oleh Samgat Lucem Mpu Ghek
Sang Apanji Tepet dengan penanaman
Pohon beringin

Watu Tulis

            Walau sering mengunjungi Gereja dan Gua Maria Pohsarang yang dibangun oleh Ir. Henricus Maclaine Pont pada tahun 1936, nyatanya saya hanya sekali saja mengunjungi prasasti ini, terutama karena kurangnya informasi yang ada. Pernah suatu hari saya menanyakan tempat prasasti ini berada pada penduduk sekitar dan beginilah jawaban mereka,
“ Prasasti itu orangnya cowok apa cewek mas ? “
Setelah dijelaskan dengan panjang lebar akhirnya paham juga dan ditunjukkan lokasinya, itupun akhirnya membawa saya tersasar ke areal pemakaman. Baru setelah usaha kedua saya berhasil menemukan letak Prasasti ini. Ya, dari pengalaman inilah jika saya bertanya ingin mencari suatu prasasti maka saya akan tanya dengan bahasa yang membumi “Watu Tulis” dan nyatanya saat blusukan ke tempat lain, begitu saya tanya Watu Tulis, warga sekitar langsung tanggap dan tahu apa yang ingin saya dokumentasikan.

Vandalisasi dan Terancam Hilang

            Untuk mengunjungi Prasasti Pohsarang, selepas dari Lapangan Desa Pohsarang, jalan tanahnyapun akan hilang dan berakhir di areal persawahan. Dari sini kita bisa berjalan melewati pematang sawah untuk menuju ke prasasti.

Prasasti Pohsarang – Tampak Depan

            Walau Prasasti Pohsarang telah dimasukkan dalam pamflet wisata Kabupaten Kediri, nyatanya kondisi sekitar Prasasti sangat mengenaskan. Pertama, kondisi cungkup yang sudah rusak. Kedua, adanya vandalisasi dengan mengecat bagian belakang dengan tulisan dan tunas kelapa lambang pramuka (ingat nak, pramuka didik bukan untuk kaya gini --- Jadi ingat vandalism di Candi Badut !!).

Prasasti Pohsarang – Tampak Belakang Dengan Vandalisme Lambang Pramuka

           Selain prasasti di tempat ini juga terdapat lumpang batu yang terbelah, namun yang paling membahayakan diantara semuanya adalah adanya penambangan pasir dan batu di sekitar Prasasti. Bahkan, tanah dibawah Prasasti telah dikeruk dan sewaktu – waktu prasasti ini bisa longsor ke bawah dan hilanglah sudah salah satu peninggalan berharga era Kerajaan Kahuripan ini.


Tanah Prasasti Mulai Tergerus Penambangan Pasir
            Sudah seyogyanya bagi pemerintah untuk menanggapi ancaman ini. Namun sepertinya langkah konkrit tak akan dilakukan sebelum Prasasti benar – benar hilang ! Dan sepatutnya bagi kita untuk sekali – kali datang dan meluangkan waktu mengunjungi salah satu situs kebesaran nenek moyang kita dan terutama untuk mendokumentasikannya sebelum keserakahan manusia merenggut warisan berharga ini.

No comments:

Post a Comment

Popular Posts